Nurturing natural talents

-->

Job Interview: “Motivasi Anda?”

Job-interviewSemenjak Senin hingga Rabu kemaren tempat usaha saya ngadakan rekruitmen karyawan. Di hari terakhir saya menyempatkan diri untuk melongok proses rekruitmen itu dan melihat salah seorang rekan jagoan saya melakukan eksplorasi.

Ketika pertanyaan berkisar tentang motivasi diajukan, maka kebanyakan pelamar ungkapkan jawaban standar; Tingkatkan taraf hidup, mencari pengalaman, mencari teman dan relasi, bagian dari ibadah, tingkatkan kualitas diri, naikkan status sosial atau yang lainnya.

Biasanya, salah satu jawaban menarik yang bisa kita dapatkan adalah motif yang berkisar pada peningkatan kualitas diri. Ada memang orang2 yang tidak mengemukakan aspek finansial sebagai alasan utama melamar kerja.

 

Kompetensi-1

Kompetensi-2

Mereka punya prinsip bahwa apa2 yang mereka dapatkan hanyalah sebanding dg kualitas & kompetensi diri. Kualitas terkait dg aspek mentalitas, kompetensi terkait dg skill dan knowledge. Mereka meyakini bahwa apa2 yang bisa mereka dapatkan -gaji, tunjangan, ruangan pribadi etc- dari tempat bekerja selalu sepadan kualitas & kompetensi diri.

Well, mungkin mereka belum tau tentang politics at work yang bisa mengacaukan itung2an rewards :mrgreen: . But still, itu adalah cara pandang yg bagus.

Menariknya, konsep ini juga berlaku untuk fenomena orang2 yang mendapatkan uang dari undian berhadiah atau semacamnya. Sebanyak apapun uang instan yang dia dapat, dia hanya bisa mengelola sebatas kapasitas dirinya. Mo dua juta atau dua ratus juta, klo dianya cuman punya wadah untuk mengelola 2 juta, berapapun yang lebih dari dua juta pasti akan habis ke mana-mana. Dan terkait dg ini, maka kemampuan kita dalam mengelola uang-uang kecil memang jd syarat kepantasan utk mengelola uang-uang besar.

Para pelamar dengan dasar motivasi di atas adalah tipe yang menarik untuk direkruit, jika mereka memang bersungguh-sungguh dg apa yang mereka maksudkan. Hopefully, mereka bisa efektif dg beragam tantangan kerja yang beritme cepat.

Tapi seperti yang sempat saya sentil di post ttg workaholic, bahwa kita punya kecenderungan untuk efektif dg salah satu atau kombinasi dari motif mengejar dan menghindar.

Soalnya -berbeda dg yang di atas- ada tipe orang yang mjd efektif dg motivasi menghindar mereka. Jawaban mereka beneran deh ndak muluk2. Setelah mengajukan pertanyaan “mengapa” hingga beberapa kali atas respon awal normatif semisal “Saya ingin mendapat penghasilan tinggi utk tingkatkan taraf hidup”, maka ditemukan bahwa alasan mereka begitu emotional and compulsive. “Saya pengen dapet kerja karena saya malu banget ama teman2 yang udah pada kerja. Saya juga nggak terima karena orang tua saya selalu disindir dan dirasan-rasan para tetangga gara2 saya yang belum juga kerja.”

Orang inilah yang menunjukkan tekad alih2 sekedar minat. Dan riil aja, orang2 yang terkesan desperate kayak gini ini yang biasanya lebih ndak rewel dg berbagai ekspektasi tunjangan kesehatan, gaji tetap, status atau yang lain. Merekalah yang bener2 mau terus lanjut biarpun jalannya kasar dan gersang, asalkan emg ada uang di sana. Yang jelas beda lah ama orang yang lembek dan mood2an krn cuma sekedar berminat.

Omong2, kita ngaca yuk. Dalam menjalani apa2 pun yang kita lakukan, kita bertekad, atau sekedar berminat :roll: Klo masih sering mutungan, berarti cuman sekedar berminat :mrgreen:

Tekad

Tapi ada perihal yang patut diwaspadai dari orang2 semacam ini; yakni tingkat stress dan orientasi mental mereka. Orang yang bener2 bokek punya kecenderungan utk memiliki orientasi mental yang berlebihan tentang uang, yang dipikirin cuman uang mulu. I know, I’ve been there.

Psikolog Frederick Herzberg menyebut uang sbg “hygiene factor”. Hygiene dalam konteks health preservation. Orang2 kayak gitu, kita juga ding, butuh uang hingga taraf tertentu untuk merasa aman. Klo kita punya uang kurang dari yang dibutuhkan, kita ndak bisa mikir apa2 kecuali uang. Tapi klo kita udah lewati titik ambang, maka kita akan bisa memikirkan perihal2 strategis yang lebih penting. We all know that, don’t we. Dan ini adl issue yang penting untuk kita perhatikan dalam merekruit orang2 dg motif menghindar.

Apapun, pelamar yang baik untuk diterima pada dasarnya adalah orang2 dg motif yang sedemikian kompulsif; driven by an irresistible inner force to do something and exerting a powerful attraction or interest (arti kamus dr compulsive).

Saya kira begitu deh :-P

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *